https://ojs.itskesicme.ac.id/index.php/jic/issue/feedJurnal Insan Cendekia2026-04-08T14:29:41+00:00Farach Khanifahfarach.khanifah@gmail.comOpen Journal Systems<p style="text-align: justify;"><strong>The Journal of Insan Cendekia (JIC)</strong> is (<em>p-ISSN: <a href="https://issn.lipi.go.id/terbit?search=2443-0854" target="_blank" rel="noopener">2443-0854</a>, e-ISSN: <a href="https://issn.lipi.go.id/terbit?search=2443-0854" target="_blank" rel="noopener">2579-8812</a></em>) is <strong>scientific, peer-reviewed and open access journa</strong>l managed and published by <strong>Institut Teknologi Sains dan Kesehatan Insan Cendekia Medika Jombang</strong> <strong>on March and September</strong>. <strong>The Journal of Insan Cendekia (JIC)</strong> publishes original research and/or literature reviews in the health sector. Nursing, midwifery, public health, health analytics, health management, health information, and health administration are all included in the scope of the health sector. Therefore, all published articles will have a unique <strong>Digital Object Identifier</strong> (DOI) number. <strong>Jurnal Insan Cendekia (JIC)</strong><strong> </strong>provides immediate open access to its content on the principle that making research freely available to the public supports a greater global exchange of knowledge. <strong>The Journal of Insan Cendekia (JIC)</strong> is an open access journal and peer-reviewed that publishes either original article or reviews.</p> <div class="col-9 journal_details" style="float: left; margin-right: 10px; margin-top: 1px; border: 1px dashed #c7500b; padding: 1px;"> <p><strong>ISSN:</strong> <a href="https://issn.lipi.go.id/terbit?search=2443-0854" target="_blank" rel="noopener">2443-0854</a></p> <p><strong>E-ISSN:</strong> <a href="https://issn.lipi.go.id/terbit?search=2443-0854" target="_blank" rel="noopener">2579-8812</a></p> <p><strong>Distribution :</strong> Open Access</p> <p><strong>Frequency:</strong> Published on March and September</p> <p><strong>Published by:</strong> ITSKES Insan Cendekia Medika Jombang</p> </div>https://ojs.itskesicme.ac.id/index.php/jic/article/view/1513GAMBARAN SEL EPITEL MUKOSA RONGGA MULUT PADA PEROKOK AKTIF DENGAN DURASI LAMA MEROKOK2026-04-08T14:19:57+00:00Roro Ilmi Walzismi Saragihilmiroro@gmail.comYeni Rahmawatiyenirahmawati@gmail.comRosmita Anggraenirosmita@gmail.com<p><em>Long-term smoking habits can lead to disease. The oral cavity is easily exposed to the detrimental effects of cigarette smoke. Hot smoke that continuously blows into the oral cavity can cause the oral cavity to become dry, which can lead to the emergence of oral diseases. The purpose of this study was to examine the relationship between smoking duration and changes in oral mucosal epithelial cells. This study was a quantitative, analytical observational study using a case-control method. This study involved 15 smokers and 15 non-smokers selected based on inclusion and exclusion criteria in motorcycle community in Yogyakarta in April 2025. Each respondent’s oral epithelial cells were taken with a cytobrush and subjected to Papanicolaou staining. Data were analyzed using Chi Square. The result showed that the majority of smokers experienced changes in epithelial cells. The Chi Square test showed a significant relationship between smoking duration and changes in epithelial cells (P<0,001). This study demonstrated a significant relationship between smoking duration and changes in the morphology of oral mucosal epithelial cells in active smokers. Future researchers are advised to measure the diameter of the cells nucleus and cytoplasm, as well as examine genotoxic markers an examine p53 protein expression to support cytological analysis. Suggestions for respondents and the community are to reduce smoking an replace smoking habits with healthier activities.</em></p>2026-04-08T13:15:13+00:00##submission.copyrightStatement##https://ojs.itskesicme.ac.id/index.php/jic/article/view/1526GAMBARAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) PADA PETUGAS DI LABORATORIUM PATOLOGI ANATOMI RUMAH SAKIT PROVINSI NTB2026-04-08T14:20:02+00:00Lisa lailatul fitrilisalailatul16@gmail.comYeni Rahmawatiyenirahmawati@gmail.comYuyun Nailufaryuyun@gmail.com<p><strong>Latar belakang: </strong>Laboratorium patologi anatomi memiliki risiko tinggi terhadap kecelakaan kerja dan paparan bahan kimia maupun biologis. Oleh karena itu, penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menjadi aspek penting untuk melindungi petugas. <strong>Tujuan: </strong>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada petugas laboratorium patologi anatomi. <strong>Metode: </strong>Penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner kepada seluruh petugas laboratorium patologi anatomi dan dilakukan analisi secara univariat. <strong>Hasil: </strong>Distribusi responden dalam penelitian ini menunjukkan bahwa 100% petugas laboratorium menyatakan penggunaan alat pelindung diri (APD) sangat penting untuk mencegah paparan bahan berbahaya. Sebanyak 90% responden secara konsisten menggunakan sarung tangan, masker, dan jas laboratorium sebelum bekerja, sementara 10% lainnya mengaku belum menggunakan APD secara lengkap. Berdasarkan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, 100% responden mengaku menggunakan alat sesuai standar operasional prosedur (SOP) dan melakukan sterilisasi alat secara berkala.Dalam aspek fasilitas dan lingkungan kerja, seluruh responden (100%) menyatakan bahwa APAR, kotak P3K, dan fasilitas pencuci mata tersedia dan mudah diakses di laboratorium. Sebanyak 90% menyatakan ventilasi ruangan berfungsi dengan baik, sedangkan 80% menyatakan adanya pemeriksaan kesehatan rutin di tempat kerja. Selanjutnya, seluruh responden (100%) menyebutkan bahwa kecelakaan kerja yang terjadi selalu dilaporkan dan didokumentasikan. Namun demikian, masih terdapat 10% responden yang belum sepenuhnya memahami prosedur penanganan kecelakaan kerja secara menyeluruh. <strong>Kesimpulan: </strong>Penerapan K3 di laboratorium patologi anatomi tergolong baik. Dibutuhkan penguatan edukasi dan evaluasi berkala untuk meminimalkan risiko kecelakaan kerja di laboratorium.</p>2026-04-08T13:16:26+00:00##submission.copyrightStatement##https://ojs.itskesicme.ac.id/index.php/jic/article/view/1542PENETAPAN KADAR FLAVONOID PADA EKSTRAK ETANOL TANAMAN RUMPUT JARI (DIGITARIA SANGUINALIS) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS2026-04-08T14:20:09+00:00Yuke Sukma Putriyukesukma29@gmail.comAldi Budi Riyantaaldibudi@gmail.comRizki Febriyantirizkifebriyanti@gmail.com<p><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Flavonoid merupakan salah satu golongan metabolit sekunder terpenting yang telah ditemukan dan diketahui memiliki berbagai aktivitas biologis, terutama sebagai antioksidan alami. Alang-alang (Digitaria sanguinalis) merupakan salah satu jenis gulma yang dapat merusak tanah budidaya pertanian, dengan potensi sumber senyawa aktif biologi, yang memiliki bukti ilmiah terbatas mengenai kandungan flavonoid dari potensi aktivitas antioksidan ekstrak etanol Digitaria sanguinalis. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 96% dan dilakukan uji fitokimia terhadap senyawa metabolit sekunder, flavonoid dan aktivitas antioksidan. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan total kandungan flavonoid dalam ekstrak etanol Digitaria sanguinalis dengan metode spektrofotometri UV-Vis, dan sekaligus membuka potensi aktivitas antioksidannya</span></span></span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> .</span></span></span></span></p>2026-04-08T13:28:04+00:00##submission.copyrightStatement##https://ojs.itskesicme.ac.id/index.php/jic/article/view/1543PENENTUAN KADAR TOTAL FENOL PADA FRAKSI N-HEKSAN, ETIL ASETAT, DAN ETANOL DARI BATANG TURI PUTIH (SESBANIA GRANDIFLORA L.)2026-04-08T14:29:41+00:00Intan Yuniarti Puteri Ardaniintanyuniarti.pa@gmail.comWilda Amanantiwildaamananti@gmail.comAldi Budi Riyantaaldibudi@gmail.com<p><strong>Pendahuluan: </strong>Turi putih (<em>Sesbania grandiflora</em> L.) mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, triterpenoid, fenolik, dan tanin. Senyawa fenolik berperan penting sebagai antioksidan, namun penelitian tentang kadar total fenol pada batang turi masih terbatas. Penggunaan metode fraksinasi dengan berbagai pelarut digunakan karena setiap pelarut memiliki tingkat kepolaran berbeda sehingga mampu memisahkan senyawa aktif secara lebih spesifik. <strong>Tujuan: </strong>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya senyawa fenol pada ekstrak batang turi putih serta menentukan fraksi pelarut yang menghasilkan kadar total fenol tertinggi. <strong>Metode: </strong>Metode ekstraksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode maserasi dengan pelarut etanol 70% yang kemudian difraksinasi dengan n-heksan, etil asetat, dan etanol. Kadar total fenol diukur menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan larutan standar asam galat dan pereaksi Folin-Ciocalteu. Analisis data dilakukan menggunakan metode regresi linear. <strong>Hasil: </strong>Berdasarkan hasil penelitian dari ketiga fraksi menunjukkan bahwa semua fraksi mengandung senyawa fenol. Fraksi n-heksan memiliki kandungan fenol sebesar 10,875 mg GAE/g, fraksi etil asetat sebesar 54,835 mg GAE/g dan fraksi etanol sebesar 16,29 mg GAE/g. <strong>Kesimpulan:</strong> Penelitian ini menunjukkan bahwa fraksi etil asetat memiliki kadar fenol yang paling besar dibandingkan dengan fraksi lainnya.</p>2026-04-08T13:34:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://ojs.itskesicme.ac.id/index.php/jic/article/view/1495PENGALAMAN KELUARGA DALAM MERAWAT PASIEN DM TIPE 2 DI RSUD WANGAYA KOTA DENPASAR2026-04-08T14:20:16+00:00Putri Ari Anggaraenyputri86anggreni@gmail.comNi Komang Sukra Andininikomangsukra@gmail.comNi Kadek Muliawatinikadek@gmail.com<p class="abstrak" style="text-indent: 28.4pt; line-height: 115%; margin: 0cm -14.2pt .0001pt 0cm;"><strong><em><span style="font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Arial',sans-serif;">Introduction:</span></em></strong><span style="font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Arial',sans-serif;"> Balanced blood sugar levels in Type 2 DM patients can be achieved by implementing the pillars of diabetes mellitus management. Good family support can enable DM sufferers to control their blood sugar levels well. It is necessary to know the extent of the family's role in providing diabetic care at home. <strong><em>Objective:</em></strong> This study aims to determine the family's experience in caring for Type 2 DM patients at Wangaya Regional Hospital, Denpasar City. <strong><em>Method:</em></strong> This study design is a qualitative study with a descriptive phenomenological approach. The sampling technique used purposive sampling with five participants. Data were collected through semi-structured interviews and observations. Data analysis used the Colaizzi method. <strong><em>Results:</em></strong> The results of this study found five themes, namely (1) family knowledge about diabetes mellitus, (2) family knowledge about diabetes mellitus management, (3) family support for patients in diabetes mellitus management, (4) family obstacles in helping with diabetes mellitus management, (5) family efforts to utilize health service facilities in diabetes mellitus management. <strong><em>Conclusion:</em></strong> The results of this study indicate that families have made efforts to help implement diabetes management but have not done so comprehensively. Structured education needs to be provided to increase the knowledge and abilities of families in helping patients carry out diabetes management at home</span></p> <p class="abstrak" style="text-indent: 28.4pt; line-height: 115%; margin: 0cm -14.2pt .0001pt 0cm;"> </p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: Experience, Family, Type 2 DM</em></p>2026-04-08T13:39:56+00:00##submission.copyrightStatement##https://ojs.itskesicme.ac.id/index.php/jic/article/view/1572The CORRELATION SPICY SNACK CONSUMPTION AND DIGESTIVE SYSTEM DISORDERS IN CHILDREN IN NGUMPUL VILLAGE, JOGOROTO DISTRICT, JOMBANG REGENCY2026-04-08T14:20:18+00:00Ruliati Ruliatiruliati123@gmail.comSiti Shofiyahsitishofiyah@gmail.com<p><strong><em>Introduction</em></strong> <em>Spicy foods can be the main trigger for digestive system disorders in children and adolescents. Digestive system disorders with pain symptoms can cause nutritional problems in children and adolescents such as anemia. The objective presence of cases of digestive system disorders in children can affect their quality of life. The aim is to determine the consumption of spicy snacks with digestive system disorders in children in Ngumpul Village, Jogoroto District, Jombang Regency..</em><strong><em> Method. </em></strong><em>This study used an analytic survey with a cross-sectional approach. The research was conducted from March 2025 to January 2026. The sample size for this study was 60 individuals, selected using purposive sampling. Data analysis was performed using the chi-square test (p-value<0.05). </em><strong><em>Result</em></strong><em> The study showed that out of 60 respondents, 11 (18%) respondents consumed spicy snacks every day, of the 11 respondents, 9 (15%) experienced digestive system disorders. 37 respondents (62%) consumed spicy snacks more than 3 times a week, of the 37 respondents, 11 (18%) respondents experienced digestive system disorders. 26 (44%) respondents did not experience digestive system disorders. The results of the chi-square test obtained a p value of 0.013 so it is smaller than α (0.05).</em><strong><em>Conclution </em></strong><em>The research findings indicate a relationship between spicy eating consumtions and an digestive system disorders in children in Ngumpul Village, Jogoroto. It is expected that parents will be more selective in providing snacks to their children, and health workers will provide education to </em><em>Parents and children should reduce eating spicy snacks,</em></p> <p><em> </em></p> <p><em> </em></p> <p><strong><em>Key</em></strong><strong><em>words</em></strong><em>: <strong>Digestive system disorders</strong><strong>, Spicy snacks, Consumption, Child</strong></em></p> <p> </p>2026-04-08T13:44:37+00:00##submission.copyrightStatement##https://ojs.itskesicme.ac.id/index.php/jic/article/view/1584GAMBARAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PEMERIKSAAN CKG DI BALAI KEKARANTINAAN KESEHATAN TEMBILAHAN DITINJAU DARI USIA DAN JENIS KELAMIN2026-04-08T14:20:20+00:00Puji Lestaripujilestarisam19@gmail.comPrayoda Utamaprayodauatama@gmail.comIra Marta Sariiramartasari@gmail.comRizki Rahmiana Harahaprizkirahmania@gmail.com<p><strong>Pendahuluan :</strong> Pemeriksaan kadar glukosa darah adalah salah satu upaya deteksi dini penyakit tidak menular, khususnya diabetes militus. Kegiatan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilaksanakan di Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Tembilahan menjadi sarana skrining kesehatan bagi masyarakat di wilayah pelabuhan dan penumpang kapal yang memiliki mobilitas tinggi. <strong>Tujuan : </strong>untuk mengetahui gambaran dari kadar glukosa darah sewaktu pada pemeriksaan CKG di BKK Tembilahan yang di tinjau dari usia dan jenis kelamin<strong>. Metode : </strong>penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional menggunakan data sekunder hasil pemeriksaan CKG bulan Februari dengan jumlah sampel sebanyak 59 subjek. Pemeriksaan kadar glukosa darah dilakukan menggunakan metode Point of Care Testing (POCT) dengan sampel darah kapiler.<strong> Hasil </strong>: penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar subjek berjenis kelamin laki-laki sebanyak 40 subjek (67,8%) dan kelompok usia terbanyak adalah 41–60 tahun sebanyak 35 subjek (59,3%). Distribusi kadar glukosa darah sewaktu didominasi oleh kategori berisiko (111–200 mg/dL) yaitu sebanyak 31 subjek (52,5%). Berdasarkan jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan sebagian besar berada pada kategori berisiko. Berdasarkan kelompok usia, kategori berisiko paling banyak ditemukan pada usia 41–60 tahun dan usia lanjut. <strong>Kesimpualan :</strong> penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar peserta CKG memiliki kadar glukosa darah sewaktu pada kategori berisiko dan peningkatan kadar glukosa darah lebih banyak ditemukan pada kelompok usia dewasa hingga lanjut usia. Oleh karena itu, pemeriksaan glukosa darah secara rutin penting dilakukan sebagai upaya deteksi dini dan pencegahan diabetes melitus.</p> <p><strong>Kata Kunci :</strong> Glukosa darah, diabetes militus, usia, jenis kelamin</p> <p> </p>2026-04-08T14:03:32+00:00##submission.copyrightStatement##https://ojs.itskesicme.ac.id/index.php/jic/article/view/1597PENGARUH TERAPI BERMAIN PAPER TOYS TERHADAP PENINGKATAN PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS PADA ANAK USIA PRASEKOLAH2026-04-08T14:20:23+00:00Hindyah Ike Suhariatihindyahike@yahoo.com<p>Anak usia prasekolah merupakan kelompok usia yang berada pada tahap perkembangan yang sangat penting, khususnya dalam aspek motorik, kognitif, sosial, dan emosional. Salah satu aspek perkembangan yang perlu mendapatkan perhatian khusus adalah perkembangan motorik halus. Perkembangan motorik halus ini tidak berkembang sesuai usia anak, akan berdampak pada keterlambatan perkembangan anak.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh terapi bermain <em>paper toys</em> terhadap peningkatan perkembangan motorik halus pada anak usia prasekolah.</p> <p>Desain penelitian menggunakan <em>Pra Experiment </em>(<em>Pre and Post test design</em>) . Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak prasekolah di TK Dharma Wanita Persatuan 2 RSJ Lawang. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik <em>simple </em><em>random sampling. </em>Sampel dalam penelitian ini berjumlah 48 anak prasekolah. Pengolahan data <em>editing, coding, scoring, tabulating</em>. Analisa data yang digunakan adalah analisa <em>univariat</em> dan <em>bivariat</em> dengan uji statistik uji <em>wilcoxon</em> <em>Signed Rank Test</em> dengan <em>alpha </em>(0,05)</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa sebagian besar perkembangan motorik halus anak usia prasekolah sebelum diberi terapi bermain <em>paper toys</em> adalah suspect sebanyak 28 anak (58.3%), sebagian besar berdasarkan perkembangan motorik halus anak usia prasekolah sesudah diberi terapi bermain <em>paper toys</em> adalah normal sebanyak 34 anak (70.8%). Hasil uji statistik dengan menggunakan uji <em>wilcoxon</em> <em>Signed Rank Test</em> didapatkan nilai p = 0,000, jika α = 0,05 maka p < α yang artinya H<sub>1</sub> diterima.</p> <p>Kesimpulannya ada pengaruh terapi bermain <em>paper toys</em> terhadap peningkatan perkembangan motorik halus pada anak usia prasekolah</p>2026-04-08T14:05:50+00:00##submission.copyrightStatement##https://ojs.itskesicme.ac.id/index.php/jic/article/view/1509PEMANFAATAN TEPUNG UMBI TALAS (COLOCASIA ESCULENTA L.) SEBAGAI MEDIA ALTERNATIF PERTUMBUHAN JAMUR CANDIDA ALBICANS2026-04-08T14:20:26+00:00Ghumaida Sulusana Wahdanaidaghumaida@gmail.comAnthofani Farhananthofanifarhan@gmail.comRista Novitasariristanovitasari@gmail.com<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>Pendahuluan:</strong> Media pertumbuhan jamur berperan penting bagi pemeriksaan kultur, namun media SDA tergolong mahal sehingga diperlukan media pertumbuhan jamur yang ekonomis. Oleh karena itu, tepung umbi talas (<em>Coloccasia esculenta L</em>.), dengan kandungan karbohidrat tinggi sekitar 70–80% dan harga terjangkau Rp30.000–40.000 per kg, dapat menjadi alternatif pengganti <em>Sabouraud Dextrose Agar</em> (SDA), mendukung pemeriksaan laboratorium jamur lebih efisien. Tepung umbi talas <em>(Coloccasia esculenta L</em>.) dapat berpotensi menjadi salah satu media alternatif jamur <em>Candida albicans</em>. <strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi tepung umbi talas (<em>Coloccasia esculenta L.)</em> sebagai media alternatif pertumbuhan jamur <em>Candida albicans. </em><strong>Metode:</strong> dilakukan secara <em>experimental laboratory</em> dan bersifat deskriptif<em>.</em> Populasi penelitian ini merupakan umbi talas (<em>Coloccasia esculenta L.) </em>yang diperoleh dari pasar pon, Kaliwungu, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang dengan menggunakan <em>quota sampling</em>. Sampel yang digunakan sebanyak 56 gr (8gr, 16 gr, 32 gr). Variabel dalam penelitian ini adalah tepung umbi talas <em>(Coloccasia esculenta L.)</em> sebagai media perkembangan jamur <em>Candida albicans</em>. <strong>Hasil:</strong> didapat pertumbuhan jamur <em>Candida albicans</em> pada konsentrasi 8%, 16%, 23%. Jamur yang tumbuh pada media tepung umbi talas (<em>Coloccasia esculenta L.)</em> memeliki ciri-ciri berwarna putih kekuningan, berbentuk bulat, permukaan sedikit cembung, halus, licin, didukung dengan pengamatan mikroskopis didapat bulat lonjong, dinding tipis yang disebut dengan blastospora. Karakteristik tersebut menunjukan ciri dari jamur <em>Candida albicans</em>. <strong>Kesimpulan:</strong> Tepung Umbi Talas (<em>Coloccasia esculenta L.)</em> dapat digunakan sebagai media alternatif pertumbuhan jamur <em>Candida albicans.</em></p> <p> </p> <p><strong>Kata kunci: Tepung Umbi talas, Media alternatif, </strong><strong><em>Candida albicans</em></strong></p>2026-04-08T14:14:01+00:00##submission.copyrightStatement##https://ojs.itskesicme.ac.id/index.php/jic/article/view/1529SKRINING THALASSEMIA DENGAN INDEKS MENTZER PADA IBU HAMIL DENGAN ANEMIA DI RSUD NGANJUK2026-04-08T14:20:27+00:00Seven Julia Tarisevenjuliatari4@gmail.comLestari Ekowatilestariekowati@gmail.comDhita Yuniar Kristianingrumdhitayuniar@gmail.com<p><em>Thalassemia</em> sebagai penyakit genetik tertinggi di dunia. Pentingnya mendiagnosis ibu hamil dengan <em>thalassemia</em>. Pengobatan <em>thalassemia </em>belum ada yang mencapai kesembuhan. Indeks Mentzer (IM) adalah indeks diskriminasi yang dibuat sebagai uji skrining karakteristik <em>thalassemia</em> untuk membedakannya dari anemia defisiensi besi. Indeks mentzer dihitung dengan membagi volume sel darah rata-rata (MCV) dengan jumlah eritrosit. Anemia pada ibu hamil suatu kondisi dimana kadar hemoglobin (Hb) ibu kurang dari 11g%. Anemia pada ibu hamil dapat digolongkan sebagai “potensi bahaya bagi ibu dan anak”. Seharusnya skrining <em>thalassemia</em> dilakukan saat konseling pra-nikah. Metode penelitian ini deskriptif. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu hamil di RSUD Nganjuk yang anemia. Teknik pengambilan sampel menggunakan <em>accidental sampling</em> didapatkan sampel sebanyak 18 ibu hamil (100%). Pemeriksaan skrining thalassemia menggunakan acuan pemeriksaan laboratorium darah lengkap. Pemeriksaan darah lengkap menggunakan alat <em>hematology analizer sysmex SN 1000 </em>dengan metode <em>flow cytometry</em>. Hasil penelitian ini skrining <em>thalassemia</em> dengan indek mentzer pada ibu hamil dengan anemia di RSUD Nganjuk diperoleh 100 % menderita anemia defisiensi besi dan tidak ada ibu hamil yang berpotensi menurunkan genetik <em>thalassemia. </em>Skrining <em>thalassemia</em> dilakukan dengan menggunakan indeks metzer. Seharusnya skrining <em>thalassemia</em> dilakukan saat konseling pra-nikah.</p>2026-04-08T14:18:37+00:00##submission.copyrightStatement##